Sabtu, 22 April 2017

MUKMIN SEPERTI POHON KURMA

MUKMIN SEPERTI POHON KURMA

Dari Ibnu Umar berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim".

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?"

Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah.

Abdullah berkata: "Aku berpikir dalam hati pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengungkapkannya.

Kemudian para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Pohon kurma". (HR. BUKHARI)

Kenapa Nabi saw menjadikan pohon kurma sebagai perumpamaan bagi seorang mukmin?

1. Pohon yg paling kuat dalam bertahan hidup adalah pohon kurma. Bisa hidup di gersang dan gersang. Tidak patah diterjang badai gurun. Itu dikarenakan akarnya yg tumbuh kuat.

Dan begitu perempuan seorang mukmin. Tegar dan sabar saat ditimpa musibah. Itu dikarenakan hatinya tumbuh kuat dengan iman dan ilmu.

2. Daun dari pohon kurma tidak berguguran, sebagaimana informasi dari Nabi saw. Para petaninya tidak disusahkan dengan membersihkan daunnya.

Begitu juga kehidupan seorang mukmin. Hidupnya tidak mengotori lingkungan dan tidak menyusahkan orang lain.

3. Buah kurma mengandung banyak vitamin dan nutrisari. Kandungannya bisa mengobati byk penyakit.

Nah, seorang mukmin itu bisa menghasilkan hal-hal yg bermanfaat bagi yang lainnya.

KETA'ZHIMAN TERHADAP GURU

KETA'ZHIMAN

لو لا مربي لا عرفت ربي

"Jika tidak ada MURABBI (guru), maka aku tidak akan mengenal rabbi(tuhan)."

Maqalah ini dinukilkan oleh salah seorang teman saat kami sharing ttg pendidikan agama. teman yg satu ini menurut kami unik. Unik krn besarnya keta'zhimannya terhadap guru, ketika org-org yg sudah "hebat" meremehkan peran guru alif ba.

Salah satu bentuk keta'zhimannya, ia menghadiahkan gurunya beberapa kitab besar yg terbilang mahal. Diantaranya kitab MAJMUK SYARAH MUHAZZAB dan FATHUL BARI SYARAH SHAHIH BUKHARI. Hadiah itu diberikan kepada guru yg mengajarkan kitab Awamil, kitab paling dasa dalam ilmu nahwu.

Ketika saya menanyakan alasannya, ia menjawab: "jika bukan krn jasanya mengajarkan dasar ilmu nahwu, bisa dipastikan saya tidak bisa seperti skrg (bisa membaca kitab-kitab besar)."

Fenomenal!!! Bagi saya ketakzhiman semacam ini hal yg luar biasa.

Pada waktu yg lain, saya mendapatkan sebagian santri yg mengkomplain gurunya. Walaupun kritikan tersebut kontruktif dan positif  menurutnya.

Kritikan yg disampaikan lebih kepada pengamalan guru terhadap ilmu yg dimiliki. "Guru skrg menjelaskan ini dan itu, menyampaikan surah-surah dengan jelas, tp beliau tdk mengamalkannya," begitu diantara kritikan santri tsb.

Menanggapinya, ada sebuah logika faktual yg perlu disampaikan.

Dosen atau pakar pertanian memberi penyuluhan kepada petani. Apakah krn pakar tsb tidak pernah turun ke sawah, lantas arahan dan intruksi mereka diabaikan???

Dosen kedokteran memberi pembelajaran kepada mahasiswanya dan menjelaskan obat yg sesuai dgn penyakit yg diderita. Apakah krn dosen tsb tidak pernah membuka praktek, lantas materi dan kajiannya ditolak???

Mourinho adalah pelatih sepakbola dunia yg sudah memenangkan banyak gelar dengan klub yg dilatihnya. Bahkan klub seperti FC Porto mampu meraih gelar champion dibawah asuhannya. Pelatih yg super hebat. Tp saat bermain, ia bukan pemain yg hebat. Jika pemain yg dilatihnya berpikiran sama dgn santri tsb, sdh dapat dipastikan ia tidak akan sukses meraih byk gelar.

Sering guru-guru kami menjelaskan: DARI ULAMA AMBIL ILMUNYA. DARI ORANG SHALIH TIRU IBADAHNYA. DARI WALIYULLAH MINTA DOA DAN AMBIL BERKAHNYA.

Nasehat tsb terus diulang-ulang, supaya terpatri kuat dalam sanubari, sehingga kelak bisa meraih kesuksesan dalam belajar.

Dulu saya memiliki teman yg super kolot. Pemikirannya seperti katak di bawah tempurung. Ia selalu mengkomplain guru-guru di dayah. Pernah ia mengatakan kpd temannya mau pindah dayah. Alasannya krn gurunya asik main raket waktu sore.

Beberapa tahun kemudian terdengar kabar ia tertangkap mesum di wc sebuah mesjid. Guru main raket tdk boleh. Klw ia mesum boleh.

Imam Nawawi, Ulama besar asal suriah dan seorang mujtahid tarjih dalam mazhab syafi'i, senantiasa berdoa kpd Allah utk menutup aib gurunya dan memperlihatkan kebaikan dari gunya. Begitu lah doa ulama besar dahulu, supaya mampu mewujudkan keta'zhiman yg sempurna kepada gurunya.

Tidak ada orang yg sempurna. Maka dari itu, ambil yg baik dan tinggalkan yg buruk.

NERAKA DAN PENGHUNINYA

NERAKA DAN PENGHUNINYA

Nabi Adam alaihissalam sangat susah saat pertama kali turun ke dunia. Semuanya serba usaha. Berbeda halnya dgn di syurga, semuanya serba mudah.

Pingin nasi langsung ada. Pingin daging langsung ada. Pingin buah langsung ada. Pingin apapun langsung ada. Hanya terlintas dalam hati, malaikat dengan seketika mewujudkannya.

Di dunia, jika lapar, mk harus Bercocok tanam terlebih dahulu, memanen, dan memasaknya. Jika pingin daging, mesti berburu, kemudian menyembelihnya, dan lalu dimasak.

Nah, ketika Nabi Adam hendak memasak makanan dan daging, beliau tdk bisa melakukannya, krn tidak memiliki alat bakar. Setelah mencarinya kemana-mana jg tidak ditemukan. Krn pada waktu itu belum ada api di dunia ini.

Ketika melihat Nabi Adam kelimpungan dlm mencari api, maka jibril menemui malaikat Malik utk meminta secuil api neraka.

Jibril: Berikan kepadaku api neraka sebesar biji kurma. Krn Adam membutuhkan api utk memasak.

Malik: jika aku memberikannya, mk tujuh petala langit dan bumi akan hancur binasa.

Jibril: klw begitu, berikan setengahnya.

Mikail: jika aku memberikannya, maka semua sungai, laut dan seluruh air di bumi akan kering dan sirna.

Lalu Jibril meminta petunjuk dari Allah swt terhadap permasalahan yg sedang ia hadapi. Kemudian Allah mewahyukan untuk mengambil api neraka sebesar zarrah dan setelahnya direndam di dalam tujuh puluh laut.

Zarrah adalah benda terkecil yg tidak bisa dibagi lagi. Biji sawi tdk termasuk zarrah, walaupun ada yg mengartikan demikian, krn biji sawi masih bisa dibagi lagi. Lebih tepatnya, Zarrah itu diartikan dgn atom.

Lantas Jibril menurunkan dan meletakkannya di dalam gunung. Walaupum sebesar atom dan sudah direndam dalam 70 sungai, tetap tensinya masih begitu tinggi, sampai gunung saja meleleh.

Melihat itu, Jibril mengambil dan membawanya kembali dalam syurga. Yang tinggal bagi Nabi Adam adalah bara api tsb. Dahsyat sekali panasnya api neraka.

Dalam satu riwayat, Jibril memberi penjelasan kepada Nabi saw ttg keadaan neraka. Di dalam neraka ada baju yg disediakan kepada penghuninya. Baju tsb, apabila digantung di antara langit dan bumi, maka seluruh makhluk akan mati, krn mencium baunya yg sangat busuk.

Penjaga neraka berjumlah 19 malaikat. Apabila salah seorang mereka turun ke dunia, mk seluruh makhluk akan mati seketika, krn melihat kengerian dan keseramannya.

Dan ada begitu banyak lagi haiah dan sifat neraka.

Nah, neraka yg digambarkan tsb, kepada siapa dipersiapkan???

Dalam Al-Alquran, Allah swt berfirman, "kami peruntukkan neraka bagi mayoritas jin dan manusia, yg memiliki pikiran tp tidak dipergunakan utk memikirkan kebaikan. Dan memiliki mata tp tdk dipergunakan utk melihat kebaikan. Dan memiliki telinga tp tdk dipergunakan utk mendengar kebaikan."(QS. Al-Akraf 179)

Dari ayat di atas dpt disimpulkan, BESAR ATAU TIDAKNYA PELUANG SESEORANG MASUK SURGA SEBANDING DGN BESARNYA PERHATIANNYA KEPADA KEBAIKAN(IBADAH).

Jika sering memikirkan kebaikan, memikirkan bagaimana meningkatkan ibadah, memikirkan bagaimana mempercepat pembangunan mesjid dan dayah, memikirkan bagaimana mensejahterakan fakir dan miskin, memikirkan bagaimana syariat bisa tegak  di tengah keluarga dan masyarakat, jika ini yg sering dipikirkan, maka peluang masuk surga sangat besar. Begitu jg dgn mata dan telinga.

KLASIFIKASI MANUSIA

KLASIFIKASI MANUSIA

1. Orang yg tw dan menyadari dirinya tw. Ini kelompok yg terbaik. Mereka adalah ulama pembimbing umat. Mereka konsisten dalam mengajar dan menyebarkan ilmu, krn mereka tw dan menyadari bahwa mereka tw.

Dalam satu riwayat, Nabi saw melarang orang alim diam dan tidak menyampaikannya(HR. Thabrani)

2. Orang yg bodoh dan menyadari dirinya bodoh. Kelompok ini terus belajar dan memperdalam ilmu, Krn mereka menyadari bahwa mereka bodoh.

Nabi saw juga melarang orang jahil diam daripada kejahilannya(HR. Thabrani)

3. Orang yg tw dan tidak menyadari dirinya tw. Kelompok ini berdosa, krn keengganan mereka utk menyebarkan ilmu.

Dalam sebuah hadis Nabi saw bersabda: “Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui kemudian ia menyembunyikannya, maka kelak ia diseret di hari kiamat dengan rantai yang terbuat dari api neraka.” (H.R Abu Daud dan Tirmidzi)

4. Orang yg jahil dan tidak menyadari dirinya jahil. Kelompok ini sangat berbahaya, krn mereka mengira dirinya sdh byk ilmu. Implikasinya, mereka meninggalkan menuntut ilmu dan berani berkata-kata ttg agama asal-asalan dan akal-akalan.

Mereka mendapatkan akumulasi dosa. Dosa tidak menuntut ilmu dan dosa menyesatkan orang lain

BERUSAHA LAH UTK MENJADI KELOMPOK PERTAMA. JIKA TIDAK BISA,  TEMPATKAN DIRI KITA PADA KELOMPOK NOMOR DUA...

Kafir vs Muslim, siapakah Raja?

Kafir vs Muslim, siapakah Raja?

Salah seorang ulama Aceh, Tgk Syarifuddin, atau akrab disapa Abi Bidok, berkata, "ORANG KAFIR ADALAH BUDAK ORANG ISLAM."

Awalnya, pernyataan tsb musykil bagi kami, krn realitanya, sekarang orang muslim yg menjadi budak org kafir. Orang kafir lebih hebat. Pakar tekhnologi org kafir. Yg Yg bisa buat nuklir org kafir. Org kafir serba bisa dewasa ini. Orang muslim ya lage habanyan.

Namun setelah beliau menjelaskan dari sudut pandang yg berbeda, sedikit demi sedikit kemusykilan tsb hilang.

"Orang kafir buat kapal, yg naik utk melakukan ibadah haji orang islam. Yg buat mobil orang kafir, yg mengendarainya utk ibadah orang muslim. Yg membuat HP orang kafir, yg menggunakannya utk menjaga ukhuwah orang muslim."

Yg buat adalah pelayan dan yg memakai adalah tuan. Muslim tugasnya beribadah. Sedangkan yg menyediakan fasilitasnya org lain. Jgn sebaliknya, Muslim menyediakan fasilitas dan org lain yg menikmati.

Demikian sekilas pandangan dari kacamata yg berbeda dari Al-Mukarram Abi Bidok

MENYIKAPI PERBEDAN PENDAPAT ULAMA

MENYIKAPI PERBEDAN PENDAPAT ULAMA

Berbeda pandangan dan pendapat itu hal yg lumrah dalam fiqh. Mulai dari eranya sahabat, tabi'in dan mujtahid sampai hari ini.

Perbedaannya sekarang, ikhtilaf di antara ulama dijadikan sebagian orang sebagai alasan untuk mencela. Dulu, di antara ulama sangat besar rasa hormat dan saling respek satu dengan yang lainnya.

Sahabat Nabi, ibnu Abbas pernah berbeda pandangan dan pendapat dengan semua mujtahid (ijmak) di eranya. Toh, beliau tidak pernah dicela oleh sahabat yang lain.

Di dalam kitab LUMA' USHULIL FIQH, karangan salah seorang ulama bergelar Ashabul Wujuh dalam mazhab Syafi'i, dinukilkan dialog yang sangat santun antara Sahabat Nabi, Usman bin Affan dengan Ibnu Abbas.

Usman bin Affan yang menjabat sbg khalifah saat itu, memutuskan Ibu terhijab Nuqshan (dari seper tiga menjadi seper enam) jika si mayit meninggalkan 2 orang saudara laki-laki.

Dalam surat An-Nisa, ayat 12 yg menjelaskan hijab ibu pada pusaka/faraid, kata saudara berbentuk jamak/plural. "JIKA MAYIT MEMILIKI IKHWAH(beberapa saudara), MAKA IBU MENDAPAT SEPER ENAM."

Nah, mengetahui keputusan Usman berbeda dengan ijtihadnya, Ibnu Abbas mendatangi Usman untuk mengkofirmasi dan meminta alasan serta memaparkan argumennya.

"Wahai khalifah, dua saudara itu bukan IKHWAH dalam bahasa arab. Kenapa engkau memutuskan ibu terhijab dengan adanya dua saudara, padahal AL-QURAN menjelaskan bahwa ibu baru terhijab apabila ada IKHWAH(3 saudara atau lebih)." Ibnu Abbas menjelaskannya.

Usman menjawab, "Aku tidak mempunyai kemampuan dan keberanian untuk menyalahi/melawan ijmak yg telah tetap sebelumku."

Dan masih begitu banyak kisah para ulama mujtahid tempoe doeloe, namun hal tsb tidak mengurangi rasa hormat dan respek sebagian mereka terhadap sebagian yang lain.

Para ulama tidak mencela, walupun berbeda, ada apa dengan kita? Kenapa kita berani mencela ulama? Apakah kita sudah memiliki ilmu agama seperti mereka? Apakah kita mengerti perbedaan yg sedang terjadi di antara mereka? Sikap siapa yg kita teladani ketika mencela?

Sadarlah!!!

Cukup kiranya Qaidah fiqh di bawah ini menjadi landasan kita dalam menghormati perbedaan pendapat di kalangan ulama.

لا ينكر المختلف فيه وانما ينكر مجمع عليه

"Hukum yang masih diperselisihkan tidak dapat diingkari, yg diingkari itu adalah hukum yg sudah disepakati."

Kita tidak boleh memberikan penilaian subyektif terhadap pendapat ulama, karena kebetulan pendapat mereka berbeda dengan angan-angan, hayalan, atau keinginan kita.

Berbeda boleh. Kita boleh memilih dan mendukung pendapat beberapa ulama atau mayoritas ulama. Tp ingat, jangan pernah mencela atau mencaci ulama yang berbeda dengan kita. Toh, ulama saja tidak saling mencela. Kenapa kita latah untuk mencela.

Banyak beristighfar, Nabi saw berdosa???

Banyak beristighfar, Nabi saw berdosa???

Dalam sebuah hadis dijelaskan, Nabi saw beristighfar dalam sehari lebih 70 kali. Sebagaimana dalam riwayat Imam Bukhari.

Hadis yang ke 5832:

ٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً رواه البخاري

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali." ( HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, sampai 100 kali. Sebagaimana riwayat Imam Tirmizi.

Hadis yang ke 3182:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ  فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu: "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan." (QS. Muhammad 19) Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali." (HR. Tirmizi). Tirmizi berkata: Hadits ini hasan shahih.

Walaupun kedua riwayat tsb berbeda,  namun bisa dijama' (dikompromikan) dan pun intinya satu, yakni Rasulullah saw beristighfar, bertaubat dan meminta ampun kepada Allah swt banyak sekali, lebih 70 atau 100 kali.

Apakah hal ini mengindikasikan Rasulullah memiliki dosa?

Jawabannya tentu saja tidak. Nabi Muhammad saw dan juga Nabi-Nabi yg lain mak'sum, tidak memiliki dosa, walaupun hanya sebesar debu. Nah, timbul pertanyaan selanjutnya, kalau demikian, apa tujuan Rasul saw beristighfar?

Oleh ulama memberikan beberapa jawaban, sebagaimana dalam kitab Fathul Bari, Karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Salah seorang ulama hadis terkemuka, yang menghafala 100 ribu hadis lebih,  dan beliau bermazhab Syafi'i.

1. Sebagai pengakuan terhadap kelalaianya. Di sini beda, hamba yang benar-benar shalih. Walaupun sudah melakukan amal dan ibadah yang super banyak, namun mereka masih menyadari bahwa apa yg mereka lakukan belum memenuhi standar kewajiban seorang hamba kepada tuhannya.

ومنها قول ابن بطال : الأنبياء أشد الناس اجتهادا في العبادة لما أعطاهم الله  تعالى من المعرفة فهم دائبون في شكره معترفون له بالتقصير  انتهى ومحصل جوابه أن الاستغفار من التقصير في أداء الحق الذي يجب لله تعالى

2. Sebagai TASYRI' bagi umatnya. Sebagaimana dimaklumi, salah satu tugas Nabi saw adalah mengajarkan syari'at kepada umatnya, dengan perkataan atau perbuatan. Dan Istighfar adalah salah satu syari'at yang beliau ajarkan melalui suri teladan.

3. Sebagai syafa'at dan tebusan bagi dosa umatnya.

ومنها أن استغفاره تشريع لأمته أو من ذنوب الأمة فهو كالشفاعة لهم

4. Sebagai tebusan bagi derajat mereka yang sebelumnya lebih rendah. Karena martabat dan keimanan Rasulullah saw terus meningkat dari waktu ke waktu. Nah, saat beliau melihat kepada kedudukan beliau sebelumnya yang lebih rendah di sisi Allah swt dengan kedudukan beliau yg sekarang, maka beliau minta ampun kepada Allah swt.

وقال الغزالي في الإحياء كان صلى الله عليه وسلم دائم الترقي فإذا ارتقى إلى حال رأى ما قبلها دونها فاستغفر من الحالة السابقة